Senja
Jika diberi pilihan antara pagi, senja dan malam, aku akan memilih senja antara ketiganya.
Senja.
Ada suatu rasa kerinduan yang mendalam ketika aku melewati waktu itu. Suatu rasa yang sukar untuk dibicarakan namun cukup diriku memahaminya.
Aku bukanlah morning person. Yang akan bangun awal pagi untuk memulai segala macam urusan. Aku belum menjadi salah satu daripadanya tetapi aku berharap aku juga bisa menjadi morning person. Yang mencintai waktu pagiku dengan melakukan hal hal sederhana yang aku cintai.
Aku begitu mencintai kepetangan. Aku suka dengan kicauan burung yang bising tatkala pulang ke sarang mereka. Aku sukakan bau manis harmoni senja. Kerinduan terhadapnya menggebu tanpa aku sedari. Aku tidak faham. Namun, jauh di dasar aku, mungkin aku memahami tetapi cuma tidak dapat untuk diluahkan. Sukar dimengertikan mengapa aku begitu mencintai senja.
Biasan matahari senja meredup sejuk. Angin sekali sekala bertiup sepoi sepoi bahasa tatkala petang menjelma. Terasa nyaman dan dingin, menampar lembut pipi. Mungkin, ini juga menjadi sebab kenapa aku begitu menyukainya.
Di kepetangan, ia adalah simbol kerehatan bagi yang bekerja seharian sejak dini hari. Mulai berpulangan kembali ke tempat asal untuk berehat dan melepaskan lelah.
Waktu yang banyak ruangan setelah melakukan banyak hal. Tidak diberati oleh apa pun aktivitas harian. Cukup mendamaikan.
Sekuat itu cintaku terhadap senja.

Senja nan indah penuh makna
ReplyDelete